Ketua MPR RI Ajak Hadapi Pemilu 2024 dengan Bijak
Kediri, kab-kediri.kpu.go.id – Sabtu (26/8/2023) KPU Kabupaten Kediri mengikuti peringatan dan tasyakuran hari jadi MPR RI yang ke-78 dengan menampilkan kisah 'Semar Boyong'. Berlangsung di Kompleks Parlemen, hadir memberikan sambitan Ketua MPR RI Bambang Soesatyo, bertema Menghadapi Pemilu 2024 dengan Bijak.
Ketua MPR RI Bambang Soesatyo mengajak semua pihak agar tidak menjadikan Pemilu 2024 sebagai panggung pertikaian yang memecah belah, karena perbedaan adalah hal biasa yang tidak seharusnya berujung pada permusuhan. "Meskipun setiap menjelang Pemilu, suhu politik biasanya semakin memanas, kita tidak boleh menjadikan Pemilu 2024 sebagai arena permusuhan yang mengakibatkan perpecahan," kata Bambang.
Dia menyatakan bahwa perbedaan pandangan dan preferensi politik adalah hal lumrah. Namun, hal tersebut tidak boleh merusak persatuan bangsa. Bambang juga mengemukakan bahwa dalam konteks kehidupan berbangsa, kita dapat mengambil pelajaran dari kisah Semar Boyong dalam pelaksanaan pesta demokrasi lima tahunan. Semar juga merupakan sosok tokoh suci yang mendatangkan kedamaian. "Kisah Semar Boyong adalah satir kehidupan, betapa keteladanan yang disimbolkan oleh sosok Semar, saat ini menjadi sebuah barang langka, sehingga harus diperebutkan," jelasnya.
Dia menjelaskan bahwa kisah tersebut menunjukkan bahwa permusuhan dan pertikaian bukanlah solusi terbaik untuk menyelesaikan masalah. Ia juga menyoroti bagaimana Semar Boyong, meskipun tampak tua dan sederhana, sebenarnya memiliki makna filosofis yang mendalam. Misalnya, rambut ubannya menggambarkan kedewasaan dalam pikiran, sikap, dan perilaku.
Dia menambahkan bahwa mata sayu Semar mencerminkan kepekaan terhadap realitas sosial dan empati terhadap penderitaan sesama. Bentuk hidungnya yang kecil melambangkan ketajaman dalam membaca tanda-tanda zaman. "Anting cabai merah di telinga, mengisyaratkan kesediaan untuk mendengarkan masukan, nasehat, dan kritikan, meskipun itu terasa pedas. Mulut yang senantiasa tersenyum, mengandung makna bahwa Semar adalah sosok yang senantiasa berupaya untuk menghibur dan menggembirakan orang lain," urai Bambang.
Terakhir, ia juga mengingatkan bahwa pagelaran wayang adalah bentuk seni budaya yang sarat dengan makna, dan dapat dijadikan panduan.
"Dari penggambaran karakter dan narasi alur cerita yang disajikan, banyak benang merah yang dapat dipadukan relevansinya dan dirujuk kontekstualisasinya," tambahnya.(pnj)